Mengapa Muslim yang Kuat Lebih Dicintai dari pada Muslim yang Lemah?

Sabtu, Juli 29, 2017

Allah SWT telah ber-firman di dalam Surat Rum ayat 54, yang berbunyi:
“Allah lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah itu menjadi lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”

    Dari ayat ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa “kekuatan” adalah “pemuda”. Dan pemuda adalah kekuatan diantara 2 kelemahan. Mengapa kata “kuat”  itu identik dengan pemuda? Bila kita melihat ke sudut pandang ilmu ilmu social, salah satu tolak ukur kemajuan sebuah bangsa atau kaum adalah generasi muda. Di dalam Islam, istilah pemuda lebih dikenal dengan kata “Baligh”. Bila seorang anak telah memasuki masa Baligh, maka a telah diharuskan untuk melakukan ibadah-ibadah wajib seperti Shalat, puasa, Haji. Ibadah-ibadah tersebut merupakan ibadah yang membutuhkan tenaga atau kekuatan. Baik kekuatan fisik maupun ilmu. Maka tidak salah bila katakan  seorang muslim yang kuat fisik dan ilmunya akan jauh lebih mantap dan berkualitas dalam hal ibadahnya kepada Allah SWT.

    Jika kita kembali ke 1400-an tahun yang lalu. Masa di saat Rasulullah memulai dakwahnya dengan sembunyi dan terang-terangan, kita bisa melihat bahwa kekuatan adalah modal yang sangat penting bagi seorang muslim pada masa itu. Perjalanan jauh yang ditempuh untuk berdakwah, berperang dengan pasukan penyembah berhala, dan bertahan di bawah siksaan kaum kafir Quraisy adalah segala hal yang memerlukan kekuatan. Bisa kita bayangkan apabila tidak ada seorang Umar ibn Khathab dan sahabat-sahabat yang lain di belakang Rasulullah untuk ber-Jihad fisabilillah, mungkin kita tidak akan pernah mengenal apakah itu Islam.

***


    Peran mukmin yang kuat sangatlah dibutuhkan pada zaman ini. Terlebih di tempat dimana umat muslim menjadi kaum minoritas seperti di Eropa dan Amerika. Kehidupan mereka disana tidak lepas dari Rasialisme dan Islamophobia . Tentu saja muslim yang lemah fisik dan ilmu, tidak akan bisa bertahan dengan masalah tersebut. Sebaliknya, jika Rasialisme dan Islamophobia tersebut dihadapi oleh mukmin yang kuat fisik dan ilmu, bukan tidak mungkin sejarah peradaban dinasti Abbasiyah dan penaklukan kota konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih bisa terulang lagi di zaman ini. Wallahu a’lam.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe