The Prisoners’ Diaries : Seorang Pejuang Palestina

Selasa, Agustus 08, 2017

Adalah catatan-catatan pribadi yang ditulis oleh para mantan tahanan Palestina di berbagai penjara Zionis Israel. Catatan-catatan ini diterjemahkan oleh relawan asal Malaysia, Norma Hasyim, demi membuka mata dan hati kita akan penderitaan para tahanan Palestina.

Kisah dari seorang tahanan wanita Palestina bernama Wafa Albis adalah salah satu dari sekian banyak kisah tentang penderitaan mereka. Berikut adalah kisahnya;

Seorang Pejuang

Ini adalah masa-masa terburuk dalama hidupku. Aku merasa begitu tertekan dan putus asa. Salah satu impianku berakhir hari ini dalam sekejap mata.
Alih-alih pergi ke surga, Allah menghendakiku pergi ke kandang Zionis. Seorang tentara wanita datang kepadaku dan berkata dengan nada amarah, “Kau datang ke sini untuk membunuh orang tak berdosa dan anak-anak Israel, Teroris?”
“Aku adalah seorang pejuang tidak peduli apa yang kau lakukakan,” jawabku segera. Di depanku, mereka meledakkan sabuk peledak yang telah aku kenakan di balik gaun dan kerudungku.
Pada hari itu, media  Ibrani, termasuk saluran-saluran satelit dan stasiun-stasiun radio, menyerbu untuk mengambil fotoku. Aku merasa seolah-olah diriku adalah sebuah piala mahal, dan begitulah aku menurut mereka. Para prajurit yang menangkapku diberi  hadiah meskipun menurutku ia hanya beruntung saja bukan pintar.
Mereka menginterogasiku. Tiga sipir perempuan memukulku pada luka di tubuhku dengan tongkat besinya selama hampir lima belas menit dan menyebabkan pendarahan dan rasa sakit yang tak tertahankan.
Aku diikat dengan gaya tahanan Guantanamo. Mereka bertanya tentang faksi yang mengutusku, tapi aku tidak mengaku.  Sebab, pengakuan adalah pengkhianatan bagiku. Mereka bertanya dengan kasar apakah aku menyersal, aku menjawab, “Tidak!” Setiap kali aku menolak berkata menyesal, mereka memukuliku lebih banyak lagi, sampai aku pingsan dan akhirnya terbangun di sel yang tidak layak untuk kehidupan manusia.
Mereka memberiku beberapa bantuan medis untuk menghentikan pendarahan dan mengobati jari-jariku yang patah. Saat itu aku berada di dalam lokasi isolasi Ramallah, salah satu tempat yang paling mengerikan. Seminggu kemudian, pejuang Hassan El-Madhoun, seorang pemimpin militer Fatah, mengklaim tindakanku di televisi.
Ketika aku diinterogasi selama tiga bulan, aku tidak melihat seorang pun pun kecuali sipir-sipir kriminal yang menganacam akan memerkosaku. Itulah mimpi terburukku.
Setelah itu, penyiksaan fisik berakhir. Mereka e ke tahap berikutnya: penyiksaan psikologis dan medis. Kadang-kadang, suhu sel penjara meningkat dan turun tiba-tiba. Kadang cahayanya redup dan cerah. Jika aku tidur siang, mereka menyemprotkan air ke wajahku. Mereka memeriksa selku puluhan kali setiap hari. Para sipir perempuan akan menerobos masuk dan mengikat tanganku ke jendela sel yang kecil. Mereka mencari beberapa barangku, mencari sesuatu.
Mereka mencoba berulang kali membuktikan kepadaku bahwa aku menderita gangguan psikologis. Mereka tidak pernah berhasil. Kadang-kadang seorang psikiater datang untuk mengajukan pertanyaan seperti,  “Apa warna favoritmu? Apakah kamu suka melihat darah? Apakah orangtuanmu mencintaimu? Apakah mereka memukulmu?” Aku mengerti pertanyaan-pertanyaan ini dan menyadari tujuan mereka. Apa yang membuatku terpancing adalah poligraf. Aku menjawab sebagian besar pertanyaan yang aneh dengan jujur, hanya untuk mengetahui bahwa perangkat tersebut menyebutku sebagai seorang pembohong.
Suatu hari, seorang wartawan mengunjungiku untuk mencoba menipu dan membuktikan bahwa aku adalah seorang pengebom bunuh diri, bukan seorang pejuang. Dia berkata kepadaku, “Wafa, aku sangat sedih. Aku sudah kehilangan pacarku, dan aku sedang berpikir untuk bunuh diri. Apa yang harus  aku lakukan?” Aku segera menjawab, “Agama kami melarang mengakhiri kehidupan seseorang untuk alas an seperti itu, tapi aku percaya itu diizinkan untuk mereka yang kehilangan tanah air mereka dan melihat anak-anak mereka tewas.” Ini bukanlah jawaban yang dia harapkan.
Selama tiga bulan interogasi. Aku tidak diizinkan untuk mandi, menyisir rambut, atau ganti baju. Bahkan ketika aku mau pergi ke toilet, para sipir perempuan melarangku. Ini sangat memalukan bagiku sebagai seorang manusia.
Ketika bulan-bulan yang menyakitkan itu berakhir, aku dikirim ke penjara Al  Sharon, tempat para tahanan Palestina perempuan ditahan. Aku merasa seolah-olah aku pindah dari neraka di bumi ke dalam surganya, meskipun keduanya menyakitkan. Aku gemetar saat tahanan perempuan menyambutku dengan mengucapkan “Wafa, Wafa.” Mereka memelukku seperti saudara baru mereka. Teman pertamaku disana adalah Amena Mona, yang akan aku ingat kebaikannya selama sisa hidupku. Dia mengajariku cara membaca dan menulis dalam bahasa Ibrani. Dia adalah orang pertama yang mengajariku kehidupan di penjara.
Salah satu metode penyiksaan yang mereka gunakan terhadapku adalah menempatkanku dengan tahanan krimnal wanita Israel. Mereka gemuk dan tidak memiliki sopan santun. Mereka mencoba membuatku tertekan dengan berpakaian setengah telanjang. Ketika salah satu dari mereka meminta rokok dan tidak mendapatkannya, ia mencoba bunuh diri dengan memotong nadinya. Mereka selalu terjaga sampai fajar, berdisko dan menonton saluran TV porno. Aku memejamkan mata untuk bersantai, tapi tanpa pernah bisa tidur. Jika aku tertidur, mereka mungkin berusaha untuk membunuhku. Aku benar-benar mendengar dua dari mereka berencana untuk mencekikku dengan kabel TV. Seadainya aku tidak berdiri dan menyerang salah satu dari mereka dengan keras, aku mungkin sudah mati sekarang. Oleh karena itulah, aku dikirim ke sel isolasi.
Meskipun tinggal dengan para tahanan kriminal, aku diam-diam berhasil meraih pensil yang sangat pendek. Itu adalah barang yang berharga, terutama karena hidangan makanan kami ditutupi dengan kertas putih. Aku menggambar pada kertas-kertas itu dan menyembunyikannya. Tapi sipir penjara menemukan salah satu kertas yang telah aku gambar dan bertuliskan, “Kamu tidak akan pernah melihat  cahaya seperti halnya para tahanan kami yang berani.” Gambar dan kata-kata itu membuat pelayan penjara menjadi sangat marah. Mereka memerintahkan sipir untuk menyerangku dan mengirimku kembali ke pengisolasian di Al Ramlih. Mereka mengikat tangan dan kakiku ke tempat tidur, memukul, dan mempermalukanku.
Anehnya, di sana ada kucing. Aku tidak tahu bagaimana kucing itu masuk, dan kucing itu berada denganku di dalam sel. Kucing itu adalah temanku. Aku selalu menyembunyikannya setiap kali sipir perempuan datang ke selku, sampai akhirnya ia melahirkan anak-anak kucing. Betapa bahagiannya kami! Namun, ketika mereka tahu bahwa kucing itu membuatku bahagia, mereka mengambilnya, membunuh, dan membuangnya ke dalam tong sampah. Hari itu, aku menangis sangat sedih.
Tidak ada yang lebih sulit bagi seorang wanita kecuali apabila privasinya dilanggar, terutama ketika salah satu pengkhianat berpura-pura menjadi orang yang sok rerigius. Saat aku berada di dalam sel isolasiku, aku terkejut mendengar suara seorang pria yang membaca Al-Qur’an dengan keras. Suaranya begitu keras sehingga aku berpikir ia berada di sel yang sama. Hanya dinding yang memisahkan kami.
Setelah berhenti bertilawah dia bertanya, “Wafa bagaimana keadaanmu?” Setelah ia menyebut namaku, aku merasa yakin bahwa dia adalah mata-mata salah satu dari mereka yang disebut “burung”.
Lalu katanya, “Semoga Allah mengampuni orang-orang yang mengirimmu ke sini. Mereka bersalah karena telah meminta saudari perempuannya untuk bertanggung jawab.
Hal  itu yang membuatku yakin bahwa dia adalah pengkhianat. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai dia hampir serak karena terus memanggilku tanpa balasan sedikit pun. Aku menghindari perangkap itu.

Mereka juga memintaku untuk bekerja sama dengan mereka dan minum obat untuk menyembuhkan tubuhku yang telah disiksa.Tidak akan! Aku seorang putri Palestina. Aku datang untuk menjadi seorang pejuang, dan aku telah berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan pergi sebagai seorang pejuang. Jadi, enyahlah kau, Sipir!

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe