Islam Liberal : Teologi Pluralis dan Proyek Zionis

Sabtu, Oktober 07, 2017

    "Pada zaman sekarang ini kita mendapati ada orang yang meragukan keharaman khamar atau riba, atau tentang bolehnya thalaq dan berpoligami dengan syarat-syaratnya. Ada yang meragukan keabsahan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sumber hukum. Bahkan, ada yang mengajak kita untuk membuang seluruh ilmu-ilmu Al-Qur'an (Ulumul Qur'an) dan seluruh warisan ilmu pengetahuan Al-Qur'an ke tong sampah, untuk kemudian memulai membaca Al-Qur'an dari nol dengan bacaan kontemporer, tanpa terikat oleh suatu ikatan apapun, tidak berpegang pada ilmu pengetahuan sebelumnya. Juga tidak dengan kaidah dan aturan yang ditetapkan oleh ulama umat Islam semenjak berabad-abad silam." (Yusuf Qaradhawi)
    Dengan mengusung semboyan yang indah-menawan, "Islam yang membebaskan", kelompok ini berhasil menarik sorotan banyak kalangan, baik yang pro maupun yang kontra. Kemunculan istilah Islam Liberal ini mulai dipopulerkan tahun 1950-an. Sarjana hukum India, Ali Asghar Fyzee (1899-1981) menggunakan istilah lain untuk Islam Liberal yaitu "Islam Protestan". Sebagaimana diungkap oleh Luthfi Assyaukanie bahwa Fyzee yang ingin menyampaikan pesan perlunya menghadirkan wajah Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman; dan Islam yang berorientasi ke masa depan dan bukan ke masa silam.
    Islam itu sendiri, secara lughawi, bermakna "pasrah", tunduk kepada Allah dan terikat dengan hukum-hukum yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka, Islam tidaklah bebas. Di sisi lain, Islam sebenarnya membebaskan manusia dari belenggu peribadahan kepada manusia atau makhluk lainnya. Bisa disimpulkan, Islam itu bebas dan tidak bebas.
    Islam Liberal juga mendewakan modernitas, sehingga Islam harus disesuaikan dengan kemodernan. "Jika terjadi konflik antara ajaran Islam dan pencapaian modernitas, maka yang harus dilakukan, menurut mereka, bukanlah menolak modernitas, tetapi menafsirkan kembali ajaran tersebut. Di sinilah inti dari sikap dan doktrin Islam Liberal," Kata Luthfi.
    Gagasan-gagasan yang dibawa oleh kelompok Islam Liberal ini adalah ; kelompok yang tidak setuju dengan permberlakuan syariat Islam (secara formal oleh negara), kelompok yang getol memperjuangkan sekularisasi, emansipasi wanita, menyamakan agama Islam dengan agama lain (pluralisme teologis), memperjuangkan demokrasi barat, mengkampanyekan bahaya Islam Fundamentalis yang kemudian dijadikan musuh utama dan legitimasi eksistensi Liberal. 
    William Liddle (1995) mengatakan bahwa kaum Islam Liberal bisa diberikan label Islam Substansialis. Menurut Liddle, ada empat ciri kaum substansialis. Pertama, mereka percaya bahwa isi dan substansi ajaran agama Islam jauh lebih penting daripada bentuk dan labelnya. Dengan menekankan substansi ajaran moral, sangat mudah bagi kaum substansialis ini untuk mencari common ground dengan penganut agama dan kaum moralis lainnya untuk membentuk aturan publik bersama. Kedua, mereka percaya, walau Islam (Al-Qur'an) itu bersifat universal  dan abadi, namun ia tetap harus terus menerus diinterpretasi ulang untuk merespons zaman yang terus berubah dan berbeda. Zaman pasca industri menjelang abad ke-21 ini jelaslah berbeda, secara ekonomi, politik dan kultur, dengan zaman ketika Islam pertama kali turun di era sebelum industri, lebih dari seribu tahun lalu. Ketiga, mereka percaya karena keterbatasan pikiran manusia, mustahil mereka mampu tahu setepat-tepatnya kehendak Tuhan. Kemungkinan salah menafsirkan kehendak Tuhan harus terus hidup dalam pikiran mereka. Dengan sikap ini, mereka akan lebih bertoleransi atas keberagaman interpretasi dan membuat dialog dengan pihak yang berbeda. Kompromi untuk hal-hal yang bersifat publik , yang mengatur kehidupan bersama, lebih mudah dilakukan. Kesediaan berkompromi adalah salah satu sokoguru demokrasi. Keempat, mereka mereka tak akan berupaya mendirikan negara Islam yang menjadikan negara sebagai instrumen agama Islam saja.

Teologi Pluralis

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali Imran:19)

"Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran:85)

    Teologi pluralis melihat agama-agama lain sebanding dengan agama sendiri, seperti dalam rumusan, "Other religion are equally valid ways to the same truths (John Hick); Other religion speak of different but equally valid truths (John B Cobb Jr); Each religion expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar)." Atau, setiap agama sebenarnya mengekspresikan adanya The One in the many (Seyyed Hossein Nasr). Teologi pluralis didasarkan pada satu keyakinan bahwa semua agama adalah jalan yang mengantarkan kita menuju Tuhan yang sama. Atau, teologi ini menyatakan bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga -karena kerelatifannya- maka semua agama tidak boleh merasa yakin  dan mengklaim bahwa agamanya yang lebih benar dari agama lain atau meyakini hanya agamanya yang benar.
    Penyebaran paham teologi pluralis yang intinya adalah paham pengesahan kebenaran semua agama akan berujung pada penghancuran agama itu sendiri. Jika ada orang yang menyatakan bahwa semua agama itu sama, maka tentunya ia sudah tidak yakin akan kebenaran agamanya sendiri. Hasilnya, ikatannya dengan hukum-hukum agamanya menjadi longgar. Dia dapat bertindak apapun menuruti kehendak dan nafsunya sendiri tanpa memiliki batasan untuk menentukan apakah sesuatu dianggap baik atau buruk.
    Menurut Leonard Binder, Guru Besar Universitas Chicago ini, liberalisme agama adalah memperlakukan agama sebagai pendapat. Karenanya, mentolelir keanekaragaman dalam bidang yang justru diyakini hitam putih oleh kaum tradisionalis. Menurutnya, agama dan politik boleh jadi tidak tergolong sebagai dua realitas hidup yang berlainan, namun keduanya tidak bisa dipahami secara persis. "Agama dapat diserap melalui nurani, sedangkan politik dipahami menggunakan nalar.  Dengan sudut pandang yang demikianlah, maka apa pun yang tidak bisa dinalar akan disisihkan dari wacana politik rasional."

Proyek Zionis

    Paham penyamaan agama atau "Penghancuran agama secara terselubung" inilah yang pernah seecara gencar dikampanyekan oleh organisasi rahasia Yahudi Freemasonry. Dalam bukunya, Menelanjangi Yahudi, Fuad Kauma (1997:12-13), mencatat, "Organisasi ini mempunyai tiga semboyan yang selalu didendangkan, yaitu Liberty, Egality, dan Fraternity. ( Kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan). Masing-masing semboyan itu mengandung nilai tinggi yang didambakan setiap orang." Gerakan yang memiliki misi penghancuran akidah Islam, ternyata begitu memikat banyak elit bangsa, "Persaudaraan universal tanpa memandang batas-batas agama" seolah-olah merupakan sesuatu yang utama dalam kehidupan manusia. Padahal, Islam telah menegaskan bahwa persaudaraam sejati haruslah dibangun di atas landasan iman. Innamal mu'minuuna ikhwatun (al-Hujurat:10).
    Dalam kongres Zionis pertama di Basle, Swiss, pada bulan Agustus 1897, dirumuskan, "The aim of Zionism is to create for the Jewish people a home in Palestine secured by public law." Pendirian negara Israel adalah wujud nyata dari Zionisme. Wujud nyata dari bentuk Imperialisme yang paling jahat di abad ke-20. Negara Yahudi ini dibentuk terutama oleh Amerika Serikat dengan merekayasa keluarnya Resolusi PBB No. 181 Tahun 1947, yang membagi Palestina menjadi 3 bagian (Untuk Yahudi, Palestina, dan Jerusalem ditetapkan sebagai corpus separatum). PBB sendiri dengan menerima Israel sebagai anggotanya pada 11 Mei 1949, berarti telah mengakui penjajahan Yahudi atas Israel. PBB hanya menolak pengesahan pendudukan Israel atas Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur, dengan mengeluarkan Resolusi 242 dan 338. Saat Israel terus membangun pemukiman Yahudi dan mengusir warga Palestina. Maka, tidak ada jalan lain bagi warga Palestina, selain menjadi "Fundamentalis", "Militan", "Teroris", dan meyakini bahwa Jihad adalah jalan satu-satunya jalan menghadapi Israel. Maka, tidak heran jika ada yang begitu bernafsu ingin menumpas Fundamentalis Islam. Mereka jelas bagian dari proyek global Amerika Serika dan Zionis Israel. Setidak-tidaknya, sejalan dengan Amerika dan Zionis.

     ****

    Mereka bukan saja membujuk orang Islam untuk masuk Kristen, tetapi juga berusaha menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya. Harry Dorma, dalam bukunya Towards Understanding Islam, mengungkapkan pernyataan seorang misionaris Kristen, "Boleh jadi, dalam beberapa tahun mendatang, sumbangan besar misionaris di wilayah-wilayah muslim akan tidak begitu banyak memurtadkan orang muslim, melainkan lebih banyak menyelewengkan Islam itu sendiri. Inilah bidang tugas yang tidak bisa diabaikan." Dr. Cragg, seorang misionaris terkenal asal Inggris, menyatakan, "Tidak perlu diragukan bahwa harapan terakhir misi Kristen hanyalah melakukan perubahan sikap umat muslim, sedemikian rupa sehingga mereka mau bertoleransi." Dulu, para sekularis hanya mengajukan pemikiran sekularisasi, atau reduksi ajaran Islam sebagai suatu sistem ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik kehidupan pribadi, keluarga, sosial, maupun kenegaraan. Namun, kini melalui penyebaran teologi inklusif-pluralis, mereka melangkah lebih jauh lagi dengan menggempur konsepsi Islam yang paling dasar, yaitu konsepsi di bidang akidah Islam.
    Melalui teologi pluralis ini, umat Islam diprovokasi agar melepaskan akidahnya, tidak lagi meyakini agamanya saja yang benar, dan kemudian diajak untuk mengakui bahwa agama Kristen juga benar. Maka, bisa dikatakan, teologi pluralis sebenarnya adalah pembuka pintu bagi misi Kristen dan sejalan dengan imbauan Paus Yohannes Paulus agar misi Kristen tetap dijalankan. Dengan adanya kesejajaran misi kelompok Islam Liberal dengan misi Barat untuk memberangus Islam Fundamentalis atau Militan. Perlu dipertanyakan apakah kelompok Islam Liberal memang bentukan barat, agen barat, atau bermaksud mengabdi-sadar atau tidak- pada proyek peletarian imperialisme Barat.

     Jadi bisa disimpulkan bahwa tujuan dari Islam Liberal bukan hanya untuk me-modernisasikan Islam, namun lebih kepada upaya untuk menjauhkan muslim dengan agamanya sendiri lewat pemahaman teologi inklusif-pluralis dan menutup potensi bangkitnya Islam serta mencegah fanatisme keagamaan atau Pan-Islamisme. Dan pada hakikatnya, teologi pluralis adalah ajakan kepada kekufuran karena ia melucuti keyakinan paling fundamen di dalam ajaran agama Islam, prinsip yang sangat strategis untuk membedakan seorang masih dapat dikatakan sebagai muslim atau tidak. Maka, menggandeng pluralisme dalam ajaran Islam adalah suatu hal yang kontradiktif.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe