Berhijrah

Selasa, November 07, 2017

    Terlahir sebagai seorang muslim menjadi sebuah nikmat yang biasa bagi gue. Karena seluruh keluarga gue menganut agama Islam, jadi gak aneh kalo gue pun muslim. Lebih tepatnya hanya sebuah identitas di dalam lingkungan pergaulan. Saat temen-temen gue shalat, gue shalat. Saat keluarga gue puasa, gue puasa. Semua hal ibadah yang gue lakuin hanya sekedar ikut-ikutan dan hanya sebuah 'kewajiban'. Merasa terbebani dengan status baligh. Wajib shalat 5 waktu, Puasa ramadhan, dan lain sebagainya gue anggap hanya sebuah kewajiban yang dijalani dengan keterpaksaan. Bahkan untuk baca Al-Qur'an pun, gue masih terbata-bata sampai masuk Sekolah Menengah Atas. Sama sekali gak tertarik sama yang namanya 'identitas agama', dulu. Dalam pandangan gue, orang-orang yang belajar ilmu agama itu kuno, kaku, dan gak gaul. Sampai pada suatu ketika, gue melihat langsung sebuah perbedaan 180 derajat yang terjadi sama orang di sekitar gue. Paman gue, yang dulunya gondrong, motor-motoran, petantang-petenteng kaya preman, tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang gak pernah terbayang sama sekali di pikiran gue. Beliau berhijrah, mulai merubah perilaku dan penampilannya. Bukan cuma itu, semua hal yang dulu menjadi kebiasaan, beliau tinggalkan. Timbul rasa penasaran atas apa yang terjadi pada beliau di diri gue. Heran dan takjub. Gue pun banyak ngobrol sama dia, terutama tentang hijrahnya. Setelah ngobrol banyak dan belajar sama beliau, hati ini sedikit bergetar, "Kapan mau berubah jadi seseorang yang lebih baik? Hidup ini gak hanya di dunia lho, Chan." Setiap kali gue berpikir dan merenung, rasa untuk berhijrah dalam diri semakin meningkat. Mungkin itu hidayah yang Allah kasih ke diri gue, tapi gue belum sepenuhnya sadar, dulu. Alhasil, keinginan berhijrah itu cuma mentok pada rasa, tanpa adanya reaksi. Jadi, ya gitu, kadang bener, kadang bahlul. Tapi semenjak dari situ, gue mulai suka denger-denger kajian agama di YouTube dan belajar baca Al-Qur'an. Beruntungnya gue, dan qadarullah, selalu dipertemukan dengan orang-orang yang membuat gue termotivasi untuk berubah menjadi hamba Allah yang lebih baik dari waktu ke waktu. Ismail, dia chairmate terbaik yang gue kenal. Dia juga selalu ngajarin apa yang gak gue tau dalam Islam. Dari belajar tajwid, sampe encourage gue untuk pertama kalinya ikut lomba ceramah di sekolah. Seluruh teks ceramah, dia yang bikin. Gue hafal dan akhirnya berani tampil. Walau gak dapet juara, but it meant a lot for me.

    Sampai akhirnya setelah lulus Sekolah Menengah Atas, gue pergi ke Kampung Inggris Pare-Kediri. Tujuan gue untuk menghilangkan rasa kecewa atas kegagalan SBMPTN dan belajar bahasa Inggris. Tapi ternyata, apa yang gue dapet dari sana lebih dari apa yang gue kira. Saat itu, gue satu kamar di camp sama Syeikh Agung Mandana, yang setiap hari ketawa-ketawa nonton anime One Piece dan nonton ceramahnya Dr. Dzakir Naik. Tapi dia gak pernah sekalipun melewatkan waktu subuh dan bangunin gue. Walau kadang gue gak bangun-bangun, hmm. Bukan cuma itu, dia juga selalu shalat berjamaah di setiap waktunya. Karena gue penasaran sama aktivitas ibadahnya yang luar biasa, gue mulai nanya-nanya tentang apapun ke dia, mulai dari pengalaman, pendidikan, bahasa inggris, sampe berdiskusi masalah poligami. Ternyata dia adalah seorang penghafal Qur'an yang akan melanjutkan pendidikannya ke Pakistan. Dan Alhamdulillah, sekarang dia sudah berada di sana, the dream comes true, bro. Selain Syeikh Agung Mandana, ada juga Kak Walia dan Laily, dua sosok wanita yang luar biasa. Diskusi masalah agama memang jarang sama mereka berdua, tapi karena sikap dan keramahan mereka juga, gue bisa berhijrah. Dan yang paling gue inget adalah, "Laki-laki baik untuk wanita baik, begitu sebaliknya".  Entah pemikiran gue yang jauh banget itu, gue semakin sadar akan urgensi menjadi baik, berhijrah. Dan kemudian, gue dipertemukan dengan ikhwan-ikhwan dari Dewan Keluarga Masjid Ulul Abshor, Universitas Pasundan. Gue yakin, itu bukan kebetulan. Itu semua sudah direncanakan Allah untuk gue. Berada di lingkungan orang-orang baik adalah sebuah kebaikan dan kenikmatan. Barang siapa se-majelis, dia se-jenis. Dan selain qadarullah yang semakin meyakinkan gue untuk berhijrah, juga orang-orang diatas, ada satu faktor terbesar, yakni keluarga, terutama kedua orang tua gue. Karena kebahagiaan yang hakiki adalah dapat berkumpul dengan keluarga dunia di dalam Surga Firdaus-Nya. Dan untuk berada di dalam surga-Nya itu, pasti membutuhkan proses yang panjang, hijrahlah salah satunya.

    Definisi dari hijrah menurut gue sendiri adalah bergerak menuju kenikmatan, dalam artian, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sulit memang, apalagi kita adalah manusia, yang sudah ditakdirkan memiliki akal dan nafsu. Iman naik-turun jadi hal biasa. Cara pandang kita dalam melihat sesuatupun harus dengan kaidah-kaidah agama. Nggak melulu berdasarkan pada akal, tapi apa yang sudah Allah tetapkan. Bukan hanya merubah sikap dan penampilan, tapi ber-ilmu. Duduk di dalam majelis ilmu. Dan bergaul dengan orang-orang yang baik pula. Singkatnya, hijrah adalah peluang untuk meraih kehidupan pada tingkat yang lebih baik (QS. An-Nisa': 100).

Hi there,
My Family
Syeikh Agung Mandana,
Kak Walia,
Laily,
I Miss you. See you soon.

Semoga aku dan kita bisa bersama dalam tali keimanan dan keistiqomahan. Aamiin.

"Barang siapa tidak mendapatkan taman-taman surga di dunia. Dia pun tidak mendapatkan taman-taman surga di akhirat. Adapun taman-taman surga adalah ketentraman hati."


Bandung, November 06, 2017.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe