Untitled

Sabtu, Januari 27, 2018

Menjadi seorang Mahasiswa adalah pilihan. Terpilih menjadi seseorang dari jutaan pemuda yang berhasil mendapatkan pendidikan sarjana, itu pun takdir. Tuhan memberikan kita kesempatan yang mungkin tidak orang lain peroleh.

Mungkin banyak mahasiswa telah salah memahami makna ilmu. Sehingga mereka juga kehilangan maksud dan tujuan ilmu. Akibatnya, terjadilah suatu keadaan yang disebut loss of adab (hilangnya adab).Hakikatnya, ilmu dan adab adalah dua hal yang saling terintegrasi, yang saling menguatkan. Keduanya bak sebuah koin yang tak terpisahkan dan kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya. Imam Syafi’I membuat sebuah kaidah mengenai ilmu dan adab, yang artinya, tidaklah disebut ilmu, apa yang hanya dihafal, tetapi ilmu adalah apa yang diaktualisasikan dalam bentuk adab yang akan memberikan manfaat.

Seorang mahasiswa yang seharusnya sudah memiliki kecakapan dan kematangan berpikir, nyatanya masih menggunakan cara-cara kotor dalam budaya keilmuannya. Saya sangat merasa prihatin dan kecewa atas perbuatan mahasiswa-mahasiswa tersebut. Sebab, saya dan mereka sama-sama memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab atas apa yang telah kita pilih dan takdirkan.
Seharusnya menjadi seorang mahasiswa adalah menjadi normatif. Berpegang teguh pada norma atau kaidah yang berlaku. Terutama nilai kejujuran dan tanggung jawab, nilai untuk manusia sebagai pribadi yang utuh. Sebab, esensi dari ilmu itu sendiri adalah menjadikan kita orang-orang yang berbudi dan berakal. Dapat menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar serta tidak berlaku zalim.

Bangsa Indonesia tidak mungkin akan menjadi bangsa besar jika mengabaikan tradisi keilmuan yang benar. Jika budaya santai, budaya hedonis, budaya jalan pintas, terus berkembang, maka bangsa Indonesia yang besar yang disegani dunia hanyalah impian kaum utopis.

Dan hasil akhir fenomena the loss of adab dalam mahasiswa adalah ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang tidak layak memimpin, tidak memiliki budi yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual yang mencukupi., sehingga hal itu akan membawa kerusakan di pelbagai ruang kehidupan, berupa kerusakan individu, masyarakat, bangsa dan Negara,
***
Imam Syafi’I pernah ditanya oleh seseorang, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Berkata menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana usaha seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe