Bersemainya Ketidakadilan

Minggu, Juni 10, 2018


Mandat Inggris di Palestina telah ditakdirkan untuk menyemai ketidakadilan yang mendasar. Tahun-tahun sejak keruntuhan Khilafah Utsmaniyah menjadi kesedihan bangsa Palestina oleh ancaman ganda imperialisme Inggris dan kolonialisme Zionis. Yerusalem, Hebron, Safad, dan Jaffa menjadi saksi kerusuhan besar atas gelombang pemukim Zionis di Palestina. Buaian ideologi baru nan kuat berhasil mendorong pendatang baru, bukan peziarah, menuju tanah suci bagi beragam agama.

Rakyat Palestina mengutuk apa yang ada dalam Deklarasi Balfour. Winston Churchchill berkelakar, bahwa Deklarasi Balfour “tidak bertujuan agar wilayah Palestina secara keseluruhan diubah menjadi Rumah Nasional bangsa Yahudi, tetapi Rumah tersebut harus didirikan di Palestina.1 Petisi yang diterima Komisi King-Crane telah mengidentifikasi bahwa gerakan anti-Zionis hadir di setiap distrik. Pesan dari Palestina sudah jelas: orang-orang Arab asli, yang telah menentang imigrasi Zionis selama bertahun-tahun, tidak bersedia menerima komitmen Inggris untuk membangun rumah nasional Yahudi di tanah mereka.2

Surat Hitam MacDonald pada tahun 1931 benar-benar menghapus asa bangsa Arab di Palestina. Retorika nasionalis yang berapi-api serta negosiasi dengan Inggris, tidak menghentikan gelombang imigrasi Zionis. Sekutu Inggris yakni raja-raja Arab Saudi dan Irak yang bergabung dengan penguasa Transyordania dan Yaman dalam deklarasi "mengembalikan perdamaian", berhasil mengkhianati rakyat Palestina.

Kekecewaan mereka diabadikan dalam bait-bait puisi Abu Salman, seorang penyair nasionalis Palestina:

Wahai kalian yang mencintai tanah air
    Memberontak melawan penindasan yang tak kenal ampun
Membebaskan tanah air dari raja-raja
    Membebaskannya dari boneka-boneka
Kupikir kita didukung raja-raja yang bisa memimpin rakyat yang berbaris di belakangnya 3

Seorang nasionalis ini mewakili bangsa Arab di Palestina yang kecewa. Dengan tegas mereka katakan bahwa pembebasan tanah Palestina akan datang dari rakyatnya sendiri, bukan dari pemimpinnya.

Catatan :
1. Memorandum Churchill direproduksi di buku Hurewitz, Middle East and North Africa, vol. 2, hlm. 301-305. Penekanan dalam aslinya.
2. Eugene Rogan, The Arabs; A History, terjemahan Fahmy Yamani (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2017), hlm. 281.
3.  Puisi Abu Salman direproduksi oleh novelis Palestina, Ghassan Kanafani, dalam esainya “Palestine, the 1936-1939 Revolt” (London:1982).

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe